This kind of sweet things that happen in my dorm, Griya Enha 2 Kutek Depok, whenever it is. Miracle does exist!
" Happy Mid Term Test yaa Lunaaa! Give Your Very Best! " - Fatima Medina Septiyanti, Ilmu Komunikasi - Humas 2011 (minggu UTS semester 3)
" Halo Luna cayang. Selamat UTS yah. Semoga lancar dan dapat nilai bagus. Abis itu kita ngedanus sama jalan-jalan. *muah* *muah " - Andi Nurshella, Ilmu Komunikasi - Humas 2011, staff danus HMIK 2012 (minggu UTS semester 3)
" Morning Sleepyhead "
" SELAMAT MENYAMBUT LIBURAN LUthviaNA *firework* *blowhorn* | because saying 'SELAMAT UAS LUNA' is too mainstream "
" Everything that happens now and then is a yell from God to you to Keep Moving Forward. 'LIFE GOES ON" and that's not just a tagline!
You're still 19! :) there's more GREATNESS out there waiting 4 u to take them GO GET THEM, DEAR WEDDING PLANNER - SOON - SHOULD - BE :D
I'm here, we are here! Just so you know :) XOXO - @sepuuut
P.S : too sweet? Well, time will add sour and bitter to balance the taste of your life LOL "
- Sefiana Putri, Ilmu Komunikasi - Jurnalisme 2011, calon editor majalah fashion terkenal, Dec 20th 2012
Kamis, 20 Desember 2012
Senin, 17 Desember 2012
KTF UI " RADHA SARISHA "
KOMUNITAS TARI FISIP “
RADHA SARISHA “
UNIVERSITAS INDONESIA
With
You, We Dance! Jargon miliki Komunitas Tari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik, Universitas Indonesia (KTF UI) ini selalu dapat membangkitkan semangat
berkreasi di bidang seni tari pada siapa saja yang membacanya. Bagaimana tidak,
kompetensi kelihaian dalam menari bukanlah hal yang utama untuk bergabung ke
dalamnya. Tetapi semangat untuk belajar dan mengekspresikan diri merupakan hal
yang KTF usung.
Dibentuk pertama kali di bulan
Juli 2008, dengan pendiri awal Anneke Puspa Calliandra atau yang biasa disapa
ka Neke, KTF hadir sebagai wadah penyalur bakat dan pelestarian budaya,
khususnya pada seni tari, musik, dan seni pertunjukan, bagi para mahasiswa
FISIP UI, baik dari jalur S1 maupun ekstensi.
Komunitas yang diberi nama Radha
Sarisha ini sendiri terbagi kedalam tiga jenis kegiatan utama yaitu seni tari
tradisional, seni musik tradisional, dan yang sedang gencar diaktifkan kembali
adalah seni tari modern (modern dance).
Keberagaman komunitas ini diwujudkan sebagai bentuk kontribusi nyata KTF dalam
menampilkan suatu pertunjukan seni yang lengkap dari segi tari dan permainan
alat musiknya serta tarian dari berbagai segmen waktu yaitu tradisional dan
modern.
Komunitas ini juga membuka lebar
kesempatan bagi para anggotanya untuk mempelajari ketiga kegiatan tersebut
tanpa terkecuali. Tidak heran, setiap anggota KTF hadir sebagai seorang seniman
yang memiliki banyak kompetensi dalam seni pertunjukan. Seorang penari
tradisional di KTF, juga memungkinkan dapat menari tari modern dan mengenal
alat musik pengiring tariannya. KTF menekankan kesempatan ini pada dua kunci
utama, yaitu displin dan dapat membagi waktu.
Dengan pelatih Jamilah Siregar
atau yang biasa dipanggil Ka Mila, kegiatan latihan tari tradisional
berlangsung setiap hari Jumat jam 11.00 hingga jam 13.00 untuk anggota
perempuan dan jam 14.00 hingga jam 15.30 untuk anggota laki – laki. Sedangkan
untuk latihan tari modern dilakukan setiap Rabu atau Kamis malam, yaitu sekitar
pukul 19.00 hingga 20.00. Untuk kegiatan musik tradisional, sejauh ini selalu
dilakukan terlebih jika ada acara – acara tertentu yang akan diikuti KTF.
Menggunakan ruangan – ruangan
berkapasitas besar di kampus FISIP seperti Auditorium Gedung M atau ruangan
F202, dipilih komunitas yang saat ini beranggotakan sekitar 80 orang, untuk
menjadi ruangan tempat berlatih menari. Pemilihan ruangan ditentukan
berdasarkan jenis tarian yang akan dilatihkan (apakah membutuhkan banyak
berpindah tempat atau tidak), jumlah penari yang akan berlatih, dan
ketersediaan ruangan di FISIP sendiri sehubungan dengan acara internal yang
FISIP sendiri miliki sewaktu-waktu. Untuk latihan musik tradisional sendiri,
KTF lakukan di ruangan kesekretariatannya di Gedung F ruang 303, Kampus FISIP
UI.
Selain sebagai tempat untuk
berlatih alat musik, di tempat ini pula lah tempat inventaris KTF disimpan. Inventarisasi
budaya seperti seperangkat set gamelan dan kostum tari milik KTF, ditata dan
dirawat dengan baik disini. Dengan ruangan yang terbilang cukup besar pula,
tempat ini juga beberapa kali digunakan sebagai tempat latihan KTF bagi
pertunjukan - pertunjukan tertentu yang mengharuskan perpaduan kegiatan antara
musik tradisional dan tariannya.
Pertunjukan – pertunjukan ini
bersifat internal maupun eksternal. Artinya, bagi acara internal, KTF sering diminta tampil dalam
kegiatan – kegiatan di FISIP UI sendiri baik acara Badan Eksekutif Mahasiswa
(BEM) FISIP ataupun acara himpunan mahasiswa per jurusan di FISIP. Sedangkan
untuk acara eksternal, KTF Radha Sarisha sering diminta menjadi salahsatu
pengisi acara di sebuah event – event ternama dan mengikuti perlombaan
tari, yang nanti hasilnya digunakan bagi perkembangan KTF sendiri.
Sebagai contoh, dalam dua tahun
belakangan, BEM FISIP UI membuat sebuah acara bernama Gelar Apresiasi Tari
(Gelas Tari). Sebuah acara dari departemen seni budaya BEM FISIP UI yang
difokuskan pada seni pertunjukan tari. Dalam kegiatan internal ini, KTF menjadi
tutor sebaya pada teman – teman FISIP yang bukan anggota, dalam “ Latihan
Sehari Bersama KTF ” selama 3 hari yang masing-masing diisi oleh tari
tradisional, tari modern (hip – hop dance)
dan tari k-Pop. Di akhir acara, yang
berlangsung di Teater Kolam FISIP UI, bersama para penari dari luar FISIP dan
perwakilan himpunan mahasiswa, KTF menghadirkan berbagai jenis tarian seperti
tarian tradisional lengkap dengan diiringi musik gamelan dari KTF sendiri
pula, hip-hop dance, k-pop dance, dan modern dance. Acara – acara
internal seperti ini juga digunakan KTF sebagai sarana awal bagi anggota baru
KTF untuk menari di depan umum, agar nantinya para penari tersebut sudah
terbiasa saat tampil di acara - acara
eksternal.
Contoh lain di lingkup
eksternal, KTF selalu mengikuti perlombaan seni di tingkat Universitas
Indonesia atau yang biasa dikenal dengan UI Festival (di tahun 2012 berganti
nama menjadi UI Art War) untuk mewakili FISIP di lomba tari. Setelah di tahun
2011 menjadi juara 6, di tahun 2012 ini akhirnya KTF atas nama FISIP meraih
juara 1 dalam perlombaan tersebut. Selain di kampus sendiri, KTF sendiri juga
sering menjadi pengisi acara di acara – acara grand launching ataupun penari
dalam upacara adat sebuah acara. Dan prestasi KTF paling puncak berada dalam
Misi Budaya ke Eropa yang mereka jalani dalam 2 tahun belakangan ini.
Prestasi – prestasi ini tentu
tidak dapat berdiri dengan sendirinya. Shinta Dewi, atau yang biasa dipanggil
Ka Tata, seorang mahasiswa FISIP angkatan 2009 memimpin langkah – langkah
pencapaian prestasi KTF Radha Sarisha di tahun 2012 ini. Tidak hanya sendiri,
ka Tata juga dibantu teman – teman anggota lainnya dalam struktur organisasi
KTF. Orang-orang tersebut diantaranya : Tyas Wardhani ( Manajer) ; Firly
Amalia, Rizki Amelia, dan Ayip Lufti (Seksi Tari) ; Risya Primanda (Sie Musik)
; Merija Lovita Kintamani dan Agung Prabowo (Seksi Kostum) ; Tarawina
Raiyanasari (Seksi HPD) ; Sisil Riliantya (Seksi Operasional) ; Cessa Putri dan
Genelli Eka Putri (Bendahara).
Misi Budaya
Misi budaya merupakan sebuah kegiatan yang diikuti
KTF UI dua tahun belakangan ini. Melalui misi budaya KTF, memperkenalkan
keindahan budaya Indonesia melalui seni tari dan musik tradisional Indonesia di
mata dunia.
Di tahun 2012 ini, KTF UI Radha Sarisha kembali
mendapat kesempatan untuk mengikuti program misi budaya “Du Sud Festivals
Summer 2012 French – Spain – Belgium “, yang didukung oleh International
Organization of Folk Art (IOV) Indonesia. Kesempatan ini merupakan kesempatan
kedua setelah KTF Radha Sarisha juga dipercaya untuk mengikuti program misi
budaya “Du Sud Festivals Summer 2011 France – Spain” di tahun sebelumnya.
Seperti namanya, di tahun 2012 ini festival
kebudayaan tersebut berlangsung di negara Prancis, Spanyol, dan Belgia. Festival
yang dimulai sejak tanggal 9 Agustus 2012 – 15 September 2012 ini diselenggaran
di kota Castres, La Fage Saint Julien, Vic, Namur, Haguenau, dan Vila Real.
Bersama 33 orang anggotanya dan dibawah koreografer
ka Mila, KTF menampilkan 12 tarian dan musik tradisional yang diantaranya
adalah :
·
Kembeng Malate (Madura, Jawa Timur)
·
Kancet Gantar (Dayak, Kalimantan Timur)
·
Renggong Manis (Betawi, DKI Jakarta)
·
Rondang Bulan (Mandailing, Sumatera Utara)
·
Gaba-Gaba (Maluku)
·
Marsitamitami (Toba, Sumatera Utara)
·
Seudati & Saman (Nanggroe Aceh
Darussalam)
·
Mpok Ngigel (Betawi, DKI Jakarta)
·
Tifa (Nusa Tenggara Timur)
·
Lenggang Nyai (Betawi, DKI Jakarta)
·
Selayang Pandang (Melayu Deli, Sumatera
Utara)
·
Saman (Nangroe Aceh Darrusalam)
Selain beberapa tarian tradisional, KTF
UI juga menampilkan dan menyanyikan musik daerah yang beragam, mulai dari seni
Betawi yaitu Ondel-Ondel, Nusa Tenggara Timur yaitu Tutu Koda, Melayu yaitu
Selayang Pandang, hingga musik perkusi yang dimainkan dengan alat musik
tradisional khas Indonesia seperti dol, tifa, hajir, jimbe, dan rebana.
Ketua Kontingen Misi Budaya KTF 2012, Anissa Pramudita,
menyatakan kebahagiannya dapat memperlihatkan keindahan dan keberagaman
kebudayaan yang Indonesia miliki di festival bergengsi tersebut.
“Kami semakin mencintai budaya Indonesia karena kami
sangat diapresiasi di festival tersebut. Mereka berkali-kali meminta kami
menampilkan tari Saman, Betawi dan tarian lainnya, dan kami seringkali menjadi
penampil penutup di berbagai festival. Kami mendapat kesempatan juga untuk mengenal
kebudayaan negara lain, berteman dengan orang dari banyak negara, seperti
Mexico, Guam, Chili, Kenya, dan lain-lain,” jelas Anissa.
Ketua KTF Radha Sarisha 2012, Shinta Dewi, yang juga
turut berpartisipasi dalam perjalanan misi budaya ini menuturkan segenap
harapannya akan keberhasilan penampilan mereka “ Semoga bisa berjalan sukses, mendapat
dukungan dari UI dan FISIP, berjalan lancar hingga kembali ke Indonesia.”
Sebelum keberangkatan tim misi budaya ke Eropa di
tahun 2012, KTF juga mengadakan acara Gelar Pamit KTF UI Radha Sarisha yang bertema “Mataya Mirsa Buana” atau yang
berarti menari melihat dunia. Acara pagelaran tari pelepasan ini diadakan pada
tanggal 19 Juli 2012, pukul 19.00 WIB, bertempat di Graha Bhakti Budaya, Taman
Ismail Marzuki (TIM).
Sabtu, 15 Desember 2012
sweet
Hal yang paling manis adalah ketika menyaksikan dua orang yang memutuskan untuk tidak bertemu tetapi selalu dipertemukan Tuhan dengan cara-Nya
Hal yang paling manis adalah ketika menyaksikan seseorang tumbuh dan hadir dalam hidupmu. Lalu sadar kamu bahagia dia selalu hadir disana. Dan mengharu biru karena dia menjadi dewasa dan tua setiap harinya.
Hal yang paling manis adalah ketika menyaksikan momen sepersekian detik, ketika senyum terkejut terpancar dari kedua orang yang matanya bertaut sesaat. Lalu berdeguplah jantung dengan ketukan yang lebih cepat dari hentakan kaki di barisan
Rabu, 05 Desember 2012
Rindu
Aku rindu dalam pelukmu
Lelap tertidur dalam dekapanmu
Saat kalbu terenyuh oleh sebuah usapan lembut di punggung
Aku kemudian menangis
Takut ini hanya sementara
Bahkan tak menyangka ini ilusi semata
Kenyataan bahwa kita tak lagi sama
Memilih untuk berpisah di antara lintang merah
Memilih untuk nelangsa di tengah kehausan akan hangat
Aku teriak ingin kembali di bawah matahari
Yang kemudian dijawab hening
" Kembali dari apa? "
Lupa bahwa kita telah terseok di atas pendar oranye
Biar susah asal bersama kata kita
Yang kemudian kita tiup sendiri agar saru dengan angin
Membuat kita jatuh terjun payung tanpa arah
Pantaslah kita tidak punya tempat kembali, kasih
***
Aku rindu dalam pelukmu
Rindu yang sebenarnya tak pernah habis
Aku ingin kembali
Pada sesuatu yang belum kau gariskan tegas
Aku dikata sudah melangkah
Pada borgol besi seberat luka
Lelap tertidur dalam dekapanmu
Saat kalbu terenyuh oleh sebuah usapan lembut di punggung
Aku kemudian menangis
Takut ini hanya sementara
Bahkan tak menyangka ini ilusi semata
Kenyataan bahwa kita tak lagi sama
Memilih untuk berpisah di antara lintang merah
Memilih untuk nelangsa di tengah kehausan akan hangat
Aku teriak ingin kembali di bawah matahari
Yang kemudian dijawab hening
" Kembali dari apa? "
Lupa bahwa kita telah terseok di atas pendar oranye
Biar susah asal bersama kata kita
Yang kemudian kita tiup sendiri agar saru dengan angin
Membuat kita jatuh terjun payung tanpa arah
Pantaslah kita tidak punya tempat kembali, kasih
***
Aku rindu dalam pelukmu
Rindu yang sebenarnya tak pernah habis
Aku ingin kembali
Pada sesuatu yang belum kau gariskan tegas
Aku dikata sudah melangkah
Pada borgol besi seberat luka
Selasa, 18 September 2012
If tomorrow never comes
Percaya ga percaya, manusia itu jarang memaknai arti hidupnya. Iya, berapa kali sih kita bertanya " untuk apa aku hidup? " "aku hidup punya tujuan apa? Punya strategi apa? ". Hidup sering diartikan sebagai sebuah perjalanan apa adanya. Ditugaskan Tuhan untuk bangun dari tempat tidur di pagi hari setelah tahu kita masih bernafas. Apa hidup hanya untuk sekedar itu?
Pencapaian tujuan sering menjadi penilaian kualitas hidup. Kenikmatan menjalani hari di dunia yang tanpa sadar menjadi tujuan tersebut. Tapi apa definisi dari "menikmati hidup" sebenarnya? Manusia malah lebih sering menjadi "take it for granted" sambil diiringi lagu "Esok kan masih ada".
Tapi, pernah memahami, how if tomorrow never comes?
Ini bukan tentang ambisiusitas atau terburu-buru lalu kemudian gegabah. Ini bercerita tentang kenaifan manusia yang berharap hidup akan selamanya, menunggu akhir bahagia, dan mati dalam senyum karena telah tenang aman damai dan sentosa menjalani hidup. Bukannya tidak bersyukur tapi pernahkah bersyukur dengan cara yang lain?
Gimana sih kalau besok tidak pernah ada? Dan kita terlalu terlena di dunia. Menghindari masalah dan menyerahkannya kepada Tuhan tanpa usaha. Bagaimana jika besok tidak pernah ada dan sepasang kekasih yang senang bertengkar belum mengucap bahwa sesungguhnya mereka saling cinta apapun bentakan yang ada? Bagaimana jika besok tidak pernah ada dan seorang sahabat belum pernah mengaku bahwa hubungan dengan sahabat lawan jenisnya lebih dari itu? Bagaimana jika besok tidak pernah ada dan kita telah meninggal tanpa seucap kata maaf? Bagaimana jika besok tidak ada dan seorang anak belum berterimakasih kepada orangtuanya?
Kamis, 19 Juli 2012
Coming Back Home
" Home is a place where you feel more comfortable. Home is a place where you can be and find your self"
-dikutip dari sebuah travelogue by Windy Ariestanty-
Dua bulan terakhir ini saya sedang berusaha memaknai konsep Rumah. Rumah yang saya maksud bukan hanya yang berupa bangunan seperti yang familiar oleh orang untuk pahami dan mudah diingat. Tapi makna yang lebih mendalam lagi.
Mungkin kalian yang membaca ini sudah sering membaca tulisan serupa. Tulisan yang berbicara mengenai proses pemaknaan suatu perjalanan hidup yang lebih mendalam dan sangat menyentuh. Tapi saya bukan penulis yang baik. Entah apa yang membuat saya saat ini tiba-tiba ingin menulis kembali, mungkin jawabannya ya hanya satu...hasrat kembali pulang ke rumah.
Meskipun di awal saya menyebutkan saya memulainya dua bulan terakhir ini, tetapi sebenarnya ini sudah dimulai sejak 3 tahun yang lalu. Sejak saya pindah ke sebuah rumah dan "menemukan kembali rumah". Untuk hal yang pertama, cerita ini bermula ketika akhirnya kami memutuskan untuk pindah rumah ke daerah yang dianggap lingkungannya lebih nyaman oleh orangtua. Saya menolak habis-habisan dengan alasan kenapa pindah ke tempat yang lingkungannya lebih sepi & terkesan individualis tersebut? Padahal di tempat saya tinggal pada waktu itu suasana hangat yang sudah terbangun 13 tahun bersama tetangga dan teman-teman sekolah yang mayoritas tinggal di perumahan itu juga. Meskipun ancaman untuk tetap tinggal disana meskipun orangtua pindah sudah diluncurkan, tetapi akhirnya saya pindah juga. 3 hari kemudian dengan nada yang sudah lebih pasrah dan ikhlas akan bertanya mengenai kepindahan rumah, akhirnya ibu saya menjawab " Rumah itu bukan masalah bangunannya, Luna. Asal kita bareng-bareng sama keluarganya ya itu namanya Rumah " dengan logat Sundanya yang khas. Untuk saya yang seorang keras kepala dan tidak mau kalah, itu salahsatu momen dalam hidup saya dimana saya terdiam.
Di satu sisi, pada saat itu saya merasa senang karena entah kenapa saya merasa dewasa. Diberi serangkaian kata yang tampak seperti kalimat-kalimat di novel yang jarang sekali saya dan orangtua lakukan karena dinilai picisan. Tapi di sisi lain, saya ingin menangis. Saya sadar bahwa di keluarga ini bukan hanya saya yang sedih atas kepindahan tersebut. Setiap orang di keluarga kami yang terdiri dari saya, ayah, ibu, seorang adik, bibi, kakek, dan bahkan kucing-kucing peliharaan juga pasti sedih dan sulit menerimanya. Hanya saja, saya yang lagi-lagi tidak mau kalah. Bukan dari siapa-siapa, tapi dari keinginan saya sendiri. Mengingat alasan kenyamanan lingkungan yang diusung sebagai alasan pindah saat itu menjadikan pindah rumah sebagai "kebutuhan".
Jumat, 08 Juni 2012
Cari
Ada yang akhir -
akhir ini kepikiran buat gue. Banyak mungkin. Salahsatunya adalah satu
pertanyaan di benak gue, kenapa gue kuliah disini? Universitas Indonesia?
Pertanyaan ini biasanya muncul ketika gue inget masalah yang akhir-akhir ini
sering ganggu gue. Tapi beberapa saat yang lalu muncul lagi ketika gue ngeliat
gardu listrik tulisannya “UI 8” di perjalanan sebelum gue sampai di tempat
sekarang gue lagi nulis. Biar dramatis mari membayangkan gue nulis di lingkaran
tempat duduk-duduk di Perpus Pusat UI sambil memandang danau nan indah.
Ini bukan tentang tidak bersyukur. Ini bukan tentang melawan
kehendak Allah. Tapi kita bener-bener terkadang ga sadar ketika usaha, doa, dan
takdir bertemu untuk diramu hasilnya adalah keajaiban. Atau mungkin sebenarnya adalah
jawaban bagi orang-orang yang membutuhkannya. Terserah dalam porsinya
masing-masing di ketiga aspek tadi. Pertanyaan yang tadi itu mungkin bagi
sebagian orang aneh. Tapi ya lagi-lagi kadang flashback, intropeksi diri,
mencari adalah jalan agar kita bisa lebih bersyukur. Kata “andai”, “coba aja
waktu dulu” itu lah yang bisa menuntun kita ke arah “oke deh karena begitu so
gue harus begini makanya sekarang” in positive way. Oke, mungkin emang ga semua
hal kayak gitu tapi untuk urusan tempat lu menuntut ilmu bisa kita masukin
positive way tadi. Universitas Indonesia dikenal sebagai universitas terbaik di
Indonesia dan gue sangat tahu itu. Tapi selanjutnya, “terus kalau terbaik
kenapa?” . Pertanyaan kedua itu pun masih bisa gue jawab dengan “karena di
tempat terbaik berarti lu bisa belajar dengan baik, di pelajaran maupun
lingkungannya”. Semua pertanyaan-pertanyaan umum yang mungkin ditanyain orang
alhamdulillah bisa gue jawab meskipun arus pertanyaan-jawaban itu akan hanya
seputar hal-hal normatif yang semua juga tahu. Pertanyaan terakhir mungkin yang
belum bisa gue jawab dengan lantang ke orang-orang “terus apa yang lu cari lun
kesini?”.
Buat siapapun yang baca post ini mungkin kalian menganggap
ini ga jelas atau ajang gue pamer. Ga ada maksud sama sekali kok. Cuma mau
bertanya, pernahkah dalam hidup lu bertanya-tanya apa yang sebenarnya lu cari
dari sebuah keberadaan lu? Pernahkan lu bertanya kenapa lu berkuliah di tempat
lu sekarang? (buat mahasiswa/i) apa yang sebenarnya lu cari? Uangkah? Ilmu?
Atau mungkin cinta?
Orang terkadang salah mendefinisikan “apa tujuannya?” dan
“apa yang dicari sebenarnya”. Sebagian orang tahu tujuan, tapi ga begitu paham
sama apa yang dia cari sebenarnya.
Ada baiknya hal-hal semacam itu kita cari dari sekarang.
Karena apa? Karena, masalah-masalah hidup yang pasti selalu ada dan ga bisa
kita hindari bisa jadi mengganggu “kehadiran” kita buat suatu lingkungan
ataupun orang lain. Pertanyaan gue mungkin susah tapi itu adalah hal dasar yang
akan jadi pegangan lu ketika menghadapi masalah tadi. Pertanyaan gue mudah dan
lu udah dapet jawabannya? Pegangan yang kuat berarti! The most inspiring women
in my life said “apapun yang memotivasi dan yang kamu cari jadikan itu dasar
yang kuat untuk melawan kesusahan-kesusahan yang kamu hadapi disana, nak”
Kadang sejenak kita perlu diam untuk merenung. Memahami arti
keberadaan kita buat orang. Cukupkah untuk mengisi bagian-bagian kosong di
mereka yang memang perlu diisi? Apakah cukup juga mengisi kebutuhan kita akan
pengalaman dan keberadaan orang lain?
Jika sudah, mari membenahkan dan menyusun strategi kembali
untuk mendapatkan apa yang selama ini dicari. Jika belum? Cepat cari. Banyak
hal-hal prinsipil dalam hidup yang perlu didapatkan. Uang? Ilmu? Atau cinta?
Mengenai pertanyaan tadi jawabannya “jawaban dan rumusannya
saya sudah mendapatkannya. Hanya Allah dan saya yang tahu”
Langganan:
Postingan (Atom)
